KEHAMILAN EKTOPIK dan ABORTUS


KEHAMILAN EKTOPIK 


Kehamilan di luar kandungan adalah kehamilan dimana sel telur (ovum) yang sudah dibuahi (oleh spermatozoon) tidak berada (implantasi) di rongga rahim (endometrium), maupun ekstrauteri. Berdasarkan tempatnya, kehamilan di luar kandungan terdiri dari (Anonim, 2007):
1.      Kehamilan Tuba (berkisar 95-98%)
2.      Kehamilan leher rahim (servikalis) dan tanduk rahim (kornual)
3.      Kehamilan indung telur (ovarium
4.      Kehamilan jaringan ikat rahim (intra ligamenter)
5.      Kehamilan rongga perut (abdomen)
6.      Kehamilan kombinasi, ada dua kehamilan, yakni kehamilan di luar kandungan dan dalam rahim secara bersamaan, presentasenya amat kecil.
Tanda-tanda kehamilan di luar kandungan beragam, dibagi menjadi dua jenis (Anonim, 2007):
1. Kehamilan di luar kandungan belum terganggu.
Pada fase ini gejalanya sama dengan kehamilan normal, terlambat haid, mual, muntah dan lain-lain. Tanda khas yang sering adalah: terlambat haid, perdarahan dan nyeri perut bagian bawah.
2. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET).
Pada fase ini, selain tanda di atas, terdapat gejala nyeri perut bawah yang amat sangat secara mendadak, lalu terjadi syok sebagai akibat pecahnya kehamilan ektopik dan gangguan keseimbangan aliran darah (hemodinamik).


ABORTUS



Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu : Kelainan pertumbuhan hasil  konsepsi, kelainan pada plasenta, faktor maternal, dan kelainan traktus genitalia. Manisfestasi klinis yang terjadi berupa amenore kurang dari 20 minggu, perdarahan pervaginam disertai hasil konsepsi, rasa mulas atau kram perut (Mansjoer dkk, 2005).
Secara klinis dibagi menjadi Abortus imminens, insipiens, inkompletus, dan Abortus kompletus. Dikenal pula Abortus servikalis, habitualis, infeksiosa dan septik (Soejoenoe&Wibowo, 2007).
1.    Abortus imminens
Peristiwa terjadinya perdarahan pada uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis terjadi perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sama dengan usia kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif. Pada wanita hamil dapat terjadi perdarahan pada saat waktu datangnya haid.
2.      Abortus insipien
Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Mulas lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah.
3.      Abortus inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi uterus, kehamilan sebelum 20 minggu dan hasil konsepsi masih tertinggal dalam uterus. Pemeriksaan vaginal, kanalis serviks terbuka jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan banyak sekali hingga syok, perdarahan tidak berhenti sebelum hasil konsepsi dikeluarkan
4.      Abortus kompletus
Pada Abortus kompletus semua hasil konsepsi dikeluarkan. Ditemukan perdarahan sedikit, ostium utri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengesil, diagnosis dapat diperiksa dan dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap (Soejoenoe&Wibowo, 2007).
  
Daftar Pustaka

Anonim. 2007. Kehamilan Di Luar Kandungan. cakmoki86.files.wordpress.com/2007/02/hamildiluarkandungan.pdf

Soejoenoes, A.& Wibowo, B. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Halaman 275-280, 303-308
Mansjoer,A., dkk, 2005. Kapita Selekta Kedokteran .Edisi ketiga Jilid 1 Cetakan Keenam., Jakarta : Media Aesculapius Fakultas kedokteran UI. Hal 261, 265-266, 375-376, 379. 

Comments (0)

Poskan Komentar